Ternyata Ini Alasan Kenapa Sendimu Sering Bunyi 'Klek' dan Nyeri!
Pernah nggak, lagi bangun dari kursi kantor terus lutut bunyi "klek"? Atau pas lagi meregangkan leher, tiba-tiba terdengar "kretek"? Yuk, kita bahas bareng apa sebenarnya yang terjadi di dalam sendimu!
Apa Sih Sebenarnya Bunyi "Klek" di Sendi Itu?
Dalam dunia medis, bunyi pada sendi disebut krepitasi. Sendi kita itu sebenarnya seperti engsel yang dilapisi tulang rawan (kartilago) dan dibungkus kapsul berisi cairan pelumas bernama cairan sinovial. Cairan ini tugasnya bikin gerakan sendi tetap licin dan nggak saling gesek.
Nah, bunyi "klek" bisa muncul dari beberapa hal di dalam "engsel" ini. Ada yang sifatnya normal dan nggak berbahaya, tapi ada juga yang jadi sinyal kalau sendimu lagi butuh perhatian.
Kenapa Sendi Bisa Bunyi "Klek" dan Terasa Nyeri?
Secara umum, ada beberapa penyebab sendi berbunyi. Yuk, kenali satu per satu:
Gelembung gas di cairan sendi pecah. Ini penyebab paling umum. Saat sendi diregangkan, tekanan di dalam kapsul sendi berubah dan gelembung gas di cairan sinovial pecah sehingga menimbulkan bunyi "pop". Biasanya nggak sakit dan nggak berbahaya. Itulah kenapa setelah "bunyi" sekali, sendi butuh waktu sebelum bisa bunyi lagi.
Tendon atau ligamen bergeser. Tendon dan ligamen bisa sedikit bergeser melewati tonjolan tulang saat kamu bergerak, lalu kembali ke posisinya dan menimbulkan bunyi "klik". Sering terjadi di lutut, bahu, dan pergelangan kaki.
Otot di sekitar sendi kaku. Terlalu lama duduk atau jarang bergerak bikin otot dan jaringan di sekitar sendi jadi kaku. Gerakan pertama setelah diam lama sering terasa "seret" dan berbunyi.
Tulang rawan mulai menipis. Seiring bertambahnya usia atau karena beban berlebih, bantalan tulang rawan bisa aus. Permukaan sendi jadi kurang mulus dan gesekannya menimbulkan bunyi kasar seperti "kretek-kretek". Kalau sudah begini, bunyinya biasanya ditemani nyeri, kaku, atau bengkak.
Peradangan pada sendi. Cedera, aktivitas berat yang berulang, atau kondisi seperti osteoartritis bisa memicu peradangan. Peradangan inilah yang bikin sendi terasa ngilu, pegal, dan nggak nyaman dipakai bergerak.
Jadi intinya, bunyi tanpa rasa sakit umumnya aman. Yang perlu diwaspadai adalah bunyi yang datang barengan dengan nyeri.
Siapa yang Paling Sering Ngalamin?
Sebenarnya siapa aja bisa, tapi beberapa kelompok ini lebih rentan:
Pekerja kantoran yang seharian duduk di depan laptop, jarang gerak, dan posturnya sering bungkuk.
Orang yang hobi olahraga berat atau angkat beban, karena sendinya bekerja ekstra.
Pekerja lapangan yang sering angkat barang, jongkok-berdiri, atau berdiri lama.
Usia 30 tahun ke atas, karena kondisi tulang rawan perlahan menurun seiring usia.
Orang dengan berat badan berlebih, karena lutut dan pinggul menanggung beban lebih besar.
Kapan dan di Mana Bunyi Ini Biasanya Muncul?
Bunyi sendi paling sering terasa di pagi hari setelah bangun tidur, setelah duduk lama, atau saat mulai olahraga tanpa pemanasan. Intinya, saat sendi dipakai bergerak setelah lama "istirahat".
Bagian tubuh yang paling sering berbunyi antara lain:
Lutut, terutama saat naik tangga atau berdiri dari posisi jongkok
Leher dan punggung, saat menoleh atau meregangkan badan
Jari tangan, apalagi buat yang suka iseng "bunyiin" jari
Bahu dan pergelangan kaki, saat diputar atau digerakkan
Kapan Harus Waspada?
Bunyi sendi nggak perlu bikin parno. Tapi segera konsultasi ke dokter kalau bunyi "klek" disertai tanda-tanda berikut:
Nyeri yang nggak kunjung hilang atau makin parah
Sendi bengkak, kemerahan, atau terasa hangat
Sendi terasa "terkunci" atau susah ditekuk dan diluruskan
Bunyi muncul setelah jatuh atau cedera
Kaku di pagi hari yang berlangsung lama dan mengganggu aktivitas
Gimana Cara Merawat Sendi Biar Tetap Nyaman?
Kabar baiknya, ada banyak kebiasaan sederhana yang bisa kamu mulai dari sekarang:
Jangan duduk terlalu lama. Setiap 30–60 menit, berdiri dan jalan sebentar. Cukup ke pantry ambil minum atau ke toilet, sendimu udah berterima kasih.
Rutin peregangan dan pemanasan. Lakukan peregangan ringan saat bangun tidur dan sebelum olahraga supaya otot dan sendi nggak kaget.
Pilih olahraga yang ramah sendi. Jalan kaki, berenang, bersepeda, atau yoga bagus buat menguatkan otot penyangga sendi tanpa beban berlebih.
Jaga berat badan ideal. Semakin ringan beban yang ditanggung, semakin awet sendi lutut dan pinggulmu.
Perbaiki postur. Atur tinggi kursi dan layar laptop biar kamu nggak bungkuk seharian.
Cukupi cairan dan nutrisi. Minum air putih yang cukup dan makan makanan bergizi seimbang untuk mendukung kesehatan tulang dan sendi.
Dukung dengan Kekuatan Herbal Nusantara
Selain kebiasaan di atas, banyak orang Indonesia sejak dulu mengandalkan rempah untuk meredakan pegal dan nyeri. Beberapa rempah yang sudah lama dipakai secara tradisional antara lain:
Sereh, yang mengandung flavonoid dan tanin dengan sifat antiradang
Pala, yang secara tradisional dikenal membantu meredakan nyeri
Lengkuas, yang diteliti punya senyawa pendukung kesehatan tulang rawan
Jinten hitam, yang dikenal dengan sifat antiradangnya
Keempat rempah ini diracik jadi satu dalam Sorehat, kapsul herbal yang diformulasikan khusus untuk membantu meredakan pegal linu dan nyeri pada persendian. Bentuknya kapsul, jadi praktis diminum tanpa ribet rebus-rebus rempah sendiri. Perlu diingat, Sorehat bukan pengganti pemeriksaan dokter, ya. Kalau kamu mengalami tanda-tanda waspada di atas, tetap periksakan ke tenaga medis.
Kesimpulan: Dengerin Sinyal dari Sendimu
Bunyi "klek" di sendi kebanyakan cuma gelembung gas yang pecah atau tendon yang bergeser, jadi nggak perlu panik. Tapi kalau bunyinya mulai ditemani nyeri, kaku, atau bengkak, itu tandanya sendimu lagi minta diperhatikan.
Mulai dari kebiasaan kecil: lebih sering bergerak, rajin peregangan, jaga berat badan, dan perbaiki postur. Kalau badan udah terlanjur pegal linu dan sendi terasa nggak nyaman, kamu bisa dukung dengan ramuan herbal seperti Sorehat dari Lestari Herbal Nusantara, yang memadukan sereh, pala, lengkuas, dan jinten hitam dalam satu kapsul praktis.
Yuk, mulai sayangi sendimu dari sekarang, biar tetap gesit dan bebas gerak sampai tua nanti!
Informasi pada halaman ini tidak menggantikan konsultasi dengan tenaga kesehatan.
