berita

Lagi-Lagi Karhutla Berulah, Kesehatan Warga Jadi Taruhan

Kabut asap karhutla Kalimantan bikin kasus ISPA tembus 277 ribu. Kenali bahaya PM2.5 bagi saluran napas dan cara melindungi diri serta keluarga selama musim asap.

Lagi-lagi, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda, dan kabut asapnya menyelimuti kota-kota seperti Palangka Raya, Samarinda, Pontianak, hingga Kalimantan Selatan.

Dampaknya ke kesehatan nggak main-main. Data Kementerian Kesehatan per 12 Oktober 2026 mencatat 277.075 kasus ISPA (infeksi saluran pernapasan akut) di tujuh provinsi terdampak kabut asap. Yang bikin miris, sekitar 62.400 di antaranya adalah anak usia 0–5 tahun.

Di Samarinda, BPBD mencatat sekitar 670 hektare lahan terbakar, dengan 4.664 kasus ISPA sepanjang Oktober saja. Kadar PM2.5 sempat menembus angka 643, sampai sekolah-sekolah terdampak harus belajar jarak jauh pada 15–17 Oktober 2026. Seorang warga Palangka Raya bahkan menggambarkan kondisi kotanya sangat memprihatinkan.

Pada karhutla besar 2015, sekitar 69 juta orang di Asia Tenggara terpaksa menghirup udara tidak sehat. Jadi, penting banget buat kita memahami bahayanya dan tahu cara melindungi diri.

Biang keroknya adalah PM2.5, partikel debu super halus yang ukurannya kurang dari 2,5 mikrometer, puluhan kali lebih kecil dari diameter rambut. Karena saking kecilnya, partikel ini bisa lolos dari saringan alami di hidung dan masuk jauh ke dalam paru-paru.

Menurut dr. Nur Anissa, Sp.P, dokter spesialis paru di RSUD Sultan Syarif Mohammad Al-Qadri Pontianak, paparan asap bisa menimbulkan berbagai keluhan:

  • Jangka pendek: iritasi mata, hidung, dan tenggorokan, batuk, sesak napas, berdahak, sampai napas berbunyi (mengi).

  • Lebih rentan infeksi: paparan asap meningkatkan kerentanan terhadap infeksi seperti ISPA dan pneumonia, serta memperparah asma dan PPOK.

  • Jangka panjang: fungsi paru bisa menurun, dan zat karsinogen dalam asap berpotensi meningkatkan risiko kanker.

Kenapa tubuh jadi lebih gampang kena infeksi? Penelitian Hansson dkk. (2023) di jurnal Particle and Fibre Toxicology memberi petunjuk. Setelah orang dewasa sehat menghirup asap kayu selama 2 jam saja, makrofag paru, yaitu sel imun yang bertugas membersihkan kuman dan partikel asing, jadi kurang sigap bekerja dan lebih banyak yang mati. Tinjauan lain juga menjelaskan bahwa asap kebakaran hutan bisa merusak lapisan pelindung saluran napas dan memicu peradangan.

Siapa yang Paling Rentan?

Semua orang yang menghirup asap bisa terdampak. Tapi menurut Kementerian Kesehatan, ada kelompok yang butuh perlindungan ekstra:

  • Anak-anak, karena paru-paru dan sistem kognitifnya masih berkembang.

  • Lansia, yang lebih berisiko mengalami PPOK, gangguan jantung, dan penyakit lain.

  • Ibu hamil.

  • Penderita asma, PPOK, atau penyakit penyerta (komorbid) lainnya.

  • Pekerja lapangan yang banyak beraktivitas di luar ruangan.

Cara Melindungi Diri dan Keluarga

Ada banyak langkah sederhana yang bisa kamu lakukan. Ini rangkuman saran dari Kementerian Kesehatan dan para dokter paru:

  • Pakai masker yang tepat. Dr. Nur Anissa menyarankan masker jenis respirator seperti N95, KN95, atau FFP2. Masker kain dan buff kurang mampu menyaring partikel asap. Kalau belum punya respirator, menurut Dr. dr. Indra Yovi, Sp.P(K) dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Riau, minimal pakai masker bedah.

  • Kurangi aktivitas di luar rumah. Tunda dulu olahraga outdoor seperti jogging atau bersepeda. Kelompok rentan sebaiknya tetap di dalam rumah.

  • Jaga udara di dalam rumah. Tutup celah jendela dan pintu, dan gunakan air purifier kalau ada.

  • Pantau kualitas udara. Cek indeks kualitas udara (ISPU) sebelum keluar rumah.

  • Minum air putih yang cukup supaya tenggorokan nggak kering dan tubuh tetap terhidrasi.

  • Makan makanan sehat dan bergizi. Ini juga disarankan Dr. Indra Yovi. Bahkan Kemenkes membagikan makanan tambahan untuk ibu hamil, balita, dan lansia di daerah terdampak untuk menjaga daya tahan tubuh mereka.

  • Terapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), seperti rajin cuci tangan dan istirahat cukup.

Selama musim asap, banyak keluarga menghabiskan lebih banyak waktu di dalam rumah. Kita tetap perlu memperhatikan asupan gizi harian, sesuai saran dokter untuk tetap makan makanan bergizi.

Salah satu pilihan praktisnya adalah Vivagoat dari Lestari Herbal Nusantara, minuman bubuk susu kambing etawa yang diracik dengan bahan-bahan alami:

  • Susu kambing etawa, sumber gizi yang teksturnya lembut dan mudah dicerna.

  • Jahe, rempah yang memberi rasa hangat dan nyaman di tenggorokan.

  • Kayu manis dan madu, untuk rasa yang pas dan menenangkan.

Perlu dicatat, Vivagoat tidak dianjurkan untuk ibu hamil dan anak di bawah 2 tahun, dan beri jeda minimal 2 jam kalau sedang minum obat lain. Ingat juga, asupan bergizi adalah pelengkap, bukan pengganti masker dan membatasi aktivitas di luar rumah. Perlindungan utama dari asap tetap masker respirator dan udara bersih di dalam rumah.

Karhutla mungkin terjadi lagi dan lagi, tapi kita tetap bisa mengambil langkah untuk melindungi kesehatan keluarga. Pakai masker yang tepat, batasi aktivitas di luar, jaga udara di rumah, minum air cukup, dan penuhi asupan bergizi. Semoga hujan segera turun dan langit Kalimantan kembali biru. Sampai saat itu tiba, yuk selalu jaga kesehatan!

Referensi

  • Karhutla di Kalimantan Selatan. Foto oleh Dimas Ardian/Bloomberg, dimuat dalam artikel Bloomberg Technoz “Alasan Pemerintah Belum Jadikan Karhutla Sebagai Bencana Nasional” (13 Oktober 2026).

  • Liputan6. Hari-hari berat warga Palangka Raya, sesak terkepung asap dan ISPA menghantui (15 Oktober 2026). Liputan6

  • Kumparan. BPBD Samarinda: karhutla ludeskan 670 hektare, munculkan 4.664 kasus ISPA (15 Oktober 2026). Kumparan

  • Kementerian Kesehatan RI. Kemenkes perkuat perlindungan kelompok rentan hadapi karhutla (26 Agustus 2026). Kemenkes

  • RCTI+. 10 juta orang terdampak karhutla, Wamenkes: picu gangguan kesehatan (31 Agustus 2026). RCTI+

  • dr. Nur Anissa, Sp.P. Bahaya kabut asap karhutla bisa turunkan fungsi paru hingga picu kanker (18 September 2026). Suara

  • Dr. dr. Indra Yovi, Sp.P(K), PDPI Riau. Asap karhutla picu gangguan pernapasan, ini tips dokter paru (9 Oktober 2026). Kabarlah

  • Hansson, A. dkk. (2023). Reduced bronchoalveolar macrophage phagocytosis and cytotoxic effects after controlled short-term exposure to wood smoke in healthy humans. Particle and Fibre Toxicology, 20(1). DOAJ

  • Bowman, W.S. dkk. (2024). "Air That Once Was Breath" Part 1: Wildfire-smoke-induced mechanisms of airway inflammation. International Archives of Allergy and Immunology, 185(6). Karger

  • Crippa, P. dkk. (2016). Population exposure to hazardous air quality due to the 2015 fires in Equatorial Asia. Scientific Reports. UCAR

Informasi pada halaman ini tidak menggantikan konsultasi dengan tenaga kesehatan.