Kenapa Nyeri Sendi Makin Parah Saat Cuaca Dingin? Ternyata Ini Penjelasan Medisnya!
Musim hujan datang, udara jadi adem, dan tiba-tiba lutut terasa ngilu. Atau setelah seharian kerja di ruangan ber-AC, jari dan pergelangan tangan mendadak kaku dan pegal.
Faktor Pemicu Nyeri Sendi Saat Udara Dingin
Nyeri sendi yang kambuh saat cuaca dingin biasanya bukan disebabkan satu hal saja, melainkan gabungan beberapa faktor yang saling berkaitan, di antaranya:
Turunnya tekanan udara (barometrik) menjelang hujan, yang ikut memengaruhi jaringan di dalam dan sekitar sendi.
Suhu yang rendah, yang membuat otot, tendon, dan ligamen jadi lebih kaku.
Udara lembap khas musim hujan, yang sering dikaitkan dengan keluhan sendi yang makin terasa.
Aliran darah ke ujung tubuh berkurang, karena tubuh menyempitkan pembuluh darah di tangan dan kaki demi menjaga suhu organ dalam.
Jarang bergerak, sebab cuaca dingin bikin kita lebih mager, padahal sendi yang jarang digerakkan justru makin kaku.
Duduk berjam-jam di bawah AC, yang buat pekerja kantoran bisa memberi efek serupa dengan cuaca dingin di luar.
Para peneliti sendiri masih terus mempelajari hubungan antara cuaca dan nyeri sendi, dan hasilnya belum sepenuhnya seragam. Meski begitu, keluhan ini sangat sering dilaporkan oleh penderita gangguan sendi, jadi rasa sakit yang kamu alami bukan sekadar perasaan.
Kelompok yang Paling Rentan Mengalaminya
Semua orang bisa merasa badannya lebih kaku saat udara dingin. Namun, nyeri sendi yang benar-benar terasa makin parah paling sering dialami oleh orang berusia 40 tahun ke atas, karena di usia ini bantalan tulang rawan mulai menipis dan sendi jadi lebih sensitif terhadap perubahan cuaca. Keluhan ini makin umum pada lansia di atas 60 tahun, yang sering merasakan sendinya "kumat" setiap musim hujan tiba. Meski begitu, usia produktif 25–40 tahun juga bisa mengalaminya, terutama mereka yang jarang olahraga, terlalu lama duduk, punya bekas cedera, atau sehari-hari bekerja dengan beban fisik berat.
Selain faktor usia, kondisi kesehatan tertentu juga membuat seseorang lebih peka terhadap dingin. Beberapa kondisi yang paling sering dikaitkan dengan keluhan ini antara lain:
Osteoartritis atau pengapuran sendi, yaitu kondisi saat tulang rawan sendi mulai aus. Kelompok inilah yang paling sering mengeluhkan nyeri saat dingin.
Rheumatoid arthritis (rematik), penyakit autoimun yang membuat sendi meradang, kaku, dan bengkak.
Asam urat, terutama jika suhu dingin dibarengi kebiasaan kurang minum saat cuaca adem.
Bekas cedera atau operasi sendi, misalnya karena keseleo atau patah tulang.
Fibromyalgia, kondisi nyeri otot dan jaringan yang menyebar di seluruh tubuh.
Berat badan berlebih, karena lutut dan pinggul harus menanggung beban ekstra setiap hari.
Proses yang Terjadi di Dalam Sendi Saat Udara Dingin
Biar lebih mudah dibayangkan, sendi itu mirip engsel pintu. Engsel ini dilapisi tulang rawan, dilumasi cairan khusus bernama cairan sinovial, lalu dikelilingi otot, tendon, ligamen, dan saraf. Ketika tekanan udara di luar tubuh turun, tekanan di dalam sendi relatif tetap. Perbedaan ini membuat jaringan di sekitar sendi sedikit mengembang untuk menyesuaikan diri, dan pengembangan kecil inilah yang bisa menekan saraf di sekitarnya, terutama pada sendi yang sudah meradang atau tulang rawannya menipis.
Pada saat bersamaan, suhu dingin membuat otot menegang dan cairan sendi menjadi lebih kental. Gerakan pun terasa berat dan seret, sehingga sendi terasa ngilu, kaku, dan pegal, apalagi ketika baru mulai digerakkan setelah lama diam.
Alasan Rasa Sakitnya Terasa Lebih Berat
Rasa nyeri yang lebih "nendang" saat cuaca dingin sebenarnya bisa dijelaskan dengan cukup sederhana. Cairan sinovial yang mengental bekerja seperti oli mesin di pagi yang dingin, jadi kurang licin dan membuat gesekan di dalam sendi bertambah. Otot dan tendon yang kaku juga menarik sendi lebih kuat, sehingga tekanan pada sendi ikut meningkat.
Di sisi lain, suhu dingin bisa membuat saraf lebih peka terhadap rasa sakit, terutama pada sendi yang sedang meradang. Peredaran darah yang melambat juga berarti pasokan oksigen dan nutrisi ke jaringan sendi berkurang, sehingga proses pemulihan ikut terhambat. Belum lagi suasana mendung yang bikin mood turun dan badan malas bergerak, kondisi yang membuat rasa nyeri terasa jauh lebih berat dari biasanya.
Waktu-Waktu Lain Saat Nyeri Sendi Mudah Kambuh
Cuaca dingin ternyata bukan satu-satunya pemicu. Banyak orang merasakan sendinya paling kaku di pagi hari setelah bangun tidur, karena sendi sudah "diam" semalaman dan butuh waktu untuk kembali lentur. Keluhan serupa juga sering muncul setelah duduk atau berdiri terlalu lama, misalnya setelah seharian bekerja di depan laptop.
Selain itu, nyeri juga kerap terasa lebih berat dalam beberapa kondisi berikut:
Setelah aktivitas fisik yang melelahkan, seperti mengangkat barang atau olahraga terlalu keras. Biasanya sendi baru "protes" di malam harinya.
Di malam hari, ketika tubuh beristirahat dan suhu ruangan menurun.
Saat lelah dan stres, karena keduanya bisa menurunkan ambang nyeri sehingga sakit ringan terasa lebih mengganggu.
Setelah makan makanan tinggi purin seperti jeroan dan seafood secara berlebihan, khususnya bagi penderita asam urat.
Area Sendi yang Paling Sering Terdampak
Efek cuaca dingin biasanya paling terasa pada sendi yang menopang beban berat atau sering dipakai, serta sendi di ujung tubuh yang paling cepat kedinginan. Area yang paling sering dikeluhkan antara lain:
Lutut, yang paling sering dikeluhkan karena harus menopang berat badan setiap hari.
Pinggul, yang terasa kaku saat berdiri dari posisi duduk atau berjalan jauh.
Jari dan pergelangan tangan, biasanya jadi area pertama yang terasa kaku bagi yang sering mengetik di ruangan ber-AC.
Pergelangan kaki, terutama pada orang yang pernah keseleo.
Bahu, leher, dan punggung bawah, karena otot di area ini cepat menegang saat dingin, apalagi jika postur duduk kurang baik.
Langkah Sederhana Meredakan Nyeri Sendi di Musim Dingin
Kabar baiknya, kamu nggak perlu pasrah setiap musim hujan datang. Ada beberapa langkah sederhana yang bisa langsung kamu coba, baik di rumah maupun di kantor:
Jaga tubuh tetap hangat dengan jaket, kaus kaki, atau sarung tangan, dan siapkan cardigan di kantor kalau AC terlalu dingin.
Kompres hangat sendi yang pegal selama 15–20 menit.
Mandi air hangat supaya otot lebih rileks dan sendi lebih lentur.
Tetap bergerak dengan peregangan ringan setiap pagi dan di sela jam kerja. Kalau hujan bikin malas keluar, olahraga ringan di dalam rumah juga oke.
Cukup minum air putih, karena saat cuaca dingin kita sering lupa minum.
Jaga berat badan tetap ideal agar lutut dan pinggul nggak menanggung beban berlebih.
Selain kebiasaan di atas, kamu juga bisa menghangatkan tubuh dari dalam. Sejak dulu, masyarakat Indonesia akrab dengan rempah-rempah yang secara tradisional dipakai untuk menghangatkan badan dan meredakan pegal, seperti:
Sereh, yang mengandung flavonoid dan tanin dengan sifat antiradang
Pala, yang secara tradisional dipakai untuk membantu meredakan nyeri
Lengkuas, yang diteliti memiliki senyawa pendukung kesehatan tulang rawan
Jinten hitam, yang dikenal luas berkat sifat antiradangnya
Keempat rempah tersebut diracik menjadi satu dalam Sorehat, kapsul jamu herbal yang diformulasikan untuk membantu meredakan pegal linu dan nyeri pada persendian. Bentuknya yang praktis bikin kamu bisa merasakan manfaat rempah tanpa repot merebusnya sendiri, cocok buat kamu yang punya jadwal padat. Namun, jika nyeri sendi disertai bengkak, kemerahan, demam, atau membuat sendi sulit digerakkan, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter.
Saatnya Lebih Peduli pada Sendimu
Nyeri sendi yang makin parah saat cuaca dingin itu nyata, bukan sekadar perasaan. Penyebabnya adalah gabungan dari tekanan udara yang turun, otot yang menegang, cairan sendi yang mengental, dan aliran darah yang melambat. Kondisi ini paling sering dialami orang berusia 40 tahun ke atas serta penderita osteoartritis, rematik, atau asam urat, dan paling terasa di lutut, pinggul, serta jari tangan.
Dengan menjaga tubuh tetap hangat, rutin bergerak, dan dukungan ramuan herbal seperti Sorehat dari Lestari Herbal Nusantara, musim hujan tetap bisa kamu nikmati tanpa drama sendi kumat.
Informasi pada halaman ini tidak menggantikan konsultasi dengan tenaga kesehatan.
