Jelang Hari Osteoporosis Sedunia, Cek Risiko Gak Harus Nunggu Tua
Setiap tanggal 20 Oktober, diperingati Hari Osteoporosis Sedunia, yang di Indonesia juga diperingati sebagai Hari Osteoporosis Nasional. Rutin cek risiko osteoporosis, jangan menunggu tua!
Kesehatan tulang bukan cuma urusan lansia. Menurut IOF, lebih dari 500 juta orang di dunia hidup dengan osteoporosis, dan 1 dari 3 perempuan serta 1 dari 5 laki-laki di atas usia 50 tahun akan mengalami patah tulang akibat osteoporosis. Di Indonesia, Perhimpunan Osteoporosis Indonesia (PEROSI) memperkirakan prevalensinya sekitar 30%. Jangan menunggu tua untuk mulai mengecek risikonya. Justru semakin cepat tahu, semakin banyak yang bisa kamu lakukan.
Karena osteoporosis dikenal sebagai silent disease alias penyakit diam-diam. Dr. Faisal Parlindungan, Sp.PD-KR, dari PB PEROSI menegaskan bahwa osteoporosis adalah penyakit tanpa gejala, sehingga menunggu sampai patah tulang adalah langkah yang keliru. Ketua Umum PB PEROSI, Dr. dr. Tirza Z. Tamin, Sp.KFR(K), juga menyebut sebagian besar kasus osteoporosis di Indonesia baru ditemukan setelah pasien mengalami patah tulang.
Masalahnya bukan cuma soal telat ketahuan. Menurut IOF, sampai 80% orang yang sudah patah tulang akibat osteoporosis nggak terdiagnosis dan nggak diobati. Padahal, setelah patah tulang pertama, risiko patah tulang berikutnya naik kira-kira dua kali lipat, terutama dalam 1–2 tahun pertama.
Selain itu, kepadatan tulang kita ternyata dibangun lebih awal dari yang dikira. IOF menjelaskan bahwa perempuan sudah mencapai sekitar 90% massa tulang puncaknya pada usia 18 tahun, sementara laki-laki sekitar usia 20 tahun. Artinya, kebiasaan di usia muda sangat menentukan seberapa kuat tulangmu nanti. Data Kementerian Kesehatan bahkan pernah mencatat sekitar 41% peserta pemeriksaan berusia di bawah 55 tahun sudah mengalami osteopenia, yaitu tahap awal pengeroposan tulang.
Tanda-Tanda yang Bisa Dikenali
Meski sering tanpa gejala di awal, ada beberapa tanda yang perlu diwaspadai. Biasanya tanda ini muncul ketika tulang, terutama tulang belakang, sudah mengalami retak kecil:
Tinggi badan berkurang. IOF menyebut ini sebagai tanda peringatan yang perlu dilaporkan ke dokter. Penelitian Briot dkk. (2010) di Canadian Medical Association Journal menemukan bahwa riwayat patah tulang belakang berkaitan dengan penurunan tinggi badan 3 cm atau lebih. Studi yang sama juga menunjukkan perkiraan tinggi badan versi pasien sendiri rata-rata meleset 2,4 cm, jadi sebaiknya diukur langsung, bukan dikira-kira.
Badan mulai membungkuk. Menurut Dr. Tirza dari PEROSI, retakan pada tulang belakang bisa mengubah bentuk tulang sehingga badan jadi bungkuk.
Nyeri punggung tanpa sebab yang jelas. Ini bisa jadi tanda retak tulang belakang yang sering terlewat. IOF mencatat hanya sekitar sepertiga patah tulang belakang yang sampai terdeteksi secara medis.
Patah tulang karena benturan ringan. Misalnya patah pergelangan tangan saat terpeleset. Sering kali inilah "gejala" pertama osteoporosis.
Bagian tubuh yang paling rawan patah akibat osteoporosis adalah tulang belakang, pinggul, dan pergelangan tangan.
Ini Faktor Risiko Osteoporosis
Karena gejalanya sering datang belakangan, cara paling cerdas adalah mengenali faktor risikonya sejak dini. Berdasarkan toolkit Hari Osteoporosis Sedunia 2026 dari IOF dan panduan Kementerian Kesehatan, berikut faktor yang perlu kamu cek:
Ada riwayat osteoporosis atau patah tulang pinggul di keluarga.
Merokok.
Konsumsi alkohol berlebihan.
Berat badan terlalu rendah, dengan indeks massa tubuh (IMT) di bawah 19.
Menopause dini, yaitu sebelum usia 45 tahun.
Memakai obat steroid, misalnya prednisolon, selama 3 bulan atau lebih.
Punya penyakit tertentu, seperti rheumatoid arthritis, penyakit radang usus, celiac, diabetes, penyakit ginjal kronis, gangguan tiroid, atau PPOK.
Terlalu lama tidak bergerak (imobilisasi).
Kurang aktivitas fisik serta kurang asupan kalsium dan vitamin D.
Risikonya juga lebih tinggi pada perempuan. Kalau kamu punya satu atau lebih faktor di atas, itu bukan berarti pasti kena osteoporosis, tapi jadi alasan kuat untuk mulai mengecek risiko.
Cara Cek Risiko
Di puskesmas. PEROSI mendorong dokter di fasilitas kesehatan tingkat pertama menjadi garda terdepan deteksi dini. Dokter bisa memakai kuesioner skrining berisi 19 pertanyaan yang hanya butuh sekitar 1 menit. Kalau skornya 5 atau lebih, kamu termasuk berisiko tinggi dan akan dirujuk untuk pemeriksaan kepadatan tulang.
Secara online. IOF menyediakan cek risiko osteoporosis gratis di situs riskcheck.osteoporosis.foundation untuk membantu mengenali faktor risiko pribadimu.
Ukur tinggi badan secara rutin. Catat tinggi badanmu setiap tahun. Kalau berkurang, segera konsultasikan ke dokter.
Sesuai tema Hari Osteoporosis Sedunia tahun ini, “Build, Protect, Strengthen”, ada tiga langkah yang bisa kamu lakukan:
1. Build (bangun)
Cukupi kalsium setiap hari. Rata-rata orang Indonesia baru mengonsumsi sekitar 254 mg kalsium per hari, padahal kebutuhan orang dewasa mencapai 1.000–1.100 mg per hari.
Cukupi vitamin D, salah satunya dengan berjemur di bawah sinar matahari pagi.
Rutin olahraga yang menumpu berat badan, seperti jalan cepat, jogging, atau naik-turun tangga. PEROSI bahkan menyarankan target sederhana: jalan kaki 10.000 langkah per hari.
2. Protect (lindungi)
Berhenti merokok.
Batasi alkohol.
Jaga berat badan supaya nggak terlalu kurus. Hindari diet ekstrem yang membuat IMT turun drastis.
3. Strengthen (kuatkan)
Latih kekuatan otot dan keseimbangan, misalnya dengan latihan beban ringan, yoga, atau tai chi. Otot yang kuat dan keseimbangan yang baik membantu mencegah jatuh, sehingga risiko patah tulang ikut berkurang.
Susah memenuhi kebutuhan kalsium harian karena jarang minum susu atau sibuk kerja? Kamu bisa coba Vivagoat dari Lestari Herbal Nusantara, minuman bubuk susu kambing etawa yang praktis untuk menambah asupan kalsium harian mu.
Vivagoat diracik dari bahan-bahan alami:
Susu kambing etawa, sumber kalsium yang teksturnya lembut dan mudah dicerna.
Jahe dan kayu manis, untuk rasa hangat yang nyaman di perut.
Madu, pemanis alami dengan rasa yang pas.
Sebagai catatan, Vivagoat tidak dianjurkan untuk ibu hamil dan anak di bawah 2 tahun, dan beri jeda minimal 2 jam kalau sedang minum obat lain. Ingat juga, asupan kalsium bekerja paling optimal kalau dibarengi olahraga, cukup sinar matahari, dan gaya hidup sehat. Kalau kamu punya faktor risiko osteoporosis, tetap lakukan cek risiko dan konsultasikan ke dokter.
Osteoporosis memang datang diam-diam, tapi bukan berarti kita nggak bisa bersiap. Momen Hari Osteoporosis Sedunia pada 20 Oktober 2026 ini bisa jadi pengingat untuk mulai peduli tulang, berapa pun usiamu.
Referensi
International Osteoporosis Foundation. (2026). World Osteoporosis Day 2026 Toolkit: Build, Protect and Strengthen Your Bones for Life. IOF
PB PEROSI (Dr. dr. Tirza Z. Tamin, Sp.KFR(K); Dr. Faisal Parlindungan, Sp.PD-KR). Deteksi osteoporosis dinilai masih terlambat, PEROSI dorong peran dokter puskesmas diperkuat (29 Juni 2026). Republika
Dr. dr. Tirza Z. Tamin, Sp.KFR(K). Penyebab osteoporosis sering tak disadari. Antara · Gejala osteoporosis, kenali tanda awal dan cara pencegahannya. Liputan6
Briot, K. dkk. (2010). Accuracy of patient-reported height loss and risk factors for height loss among postmenopausal women. Canadian Medical Association Journal, 182(6), 558–562. CMAJ
Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Pengendalian Osteoporosis. Kemenkes
Kementerian Kesehatan RI. Osteoporosis pada Remaja. Ayo Sehat Kemenkes
Ariyani, M. & Ayustaningwarno, F. (2013). Journal of Nutrition College, 2(1). Universitas Diponegoro. Undip
Angka Kecukupan Gizi 2013, dikutip dalam Repositori Polije
Informasi pada halaman ini tidak menggantikan konsultasi dengan tenaga kesehatan.
