Bedanya Maag dan GERD, Jangan Salah Kaprah!
Telat makan gara-gara meeting, begadang ngerjain tugas, atau ngopi tiga gelas sehari demi tetap melek. Gaya hidup gini biasanya akrab banget sama Gen Z dan milenial. Kenali perbedaan Maag dan GERD di sini.
Dalam dunia kedokteran, Maag sebenarnya bukan nama penyakit. Prof. Dr. dr. Dadang Makmun, Sp.PD-KGEH, FACG, ahli gastroenterologi dari RSCM dan FKUI, menjelaskan bahwa maag adalah istilah awam untuk keluhan sakit lambung, dan bukan suatu diagnosis medis.
Keluhan yang biasa kita sebut maag bisa berasal dari beberapa kondisi:
Dispepsia, yaitu kumpulan gejala gangguan pencernaan bagian atas seperti nyeri atau perih di ulu hati, begah setelah makan, cepat kenyang, dan mual. Dispepsia bukan satu penyakit spesifik, melainkan gejala yang penyebabnya bisa macam-macam.
Gastritis, yaitu peradangan pada dinding lambung.
Tukak lambung, yaitu luka pada dinding lambung.
Penyebabnya pun beragam, mulai dari iritasi asam lambung, infeksi bakteri Helicobacter pylori, penggunaan obat pereda nyeri golongan NSAID secara berlebihan, stres kronis, sampai pola makan yang nggak teratur.
Sementara itu, GERD (gastroesophageal reflux disease) adalah penyakit yang lebih spesifik. Menurut Konsensus Nasional Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PGI), GERD terjadi saat isi lambung berulang kali naik ke kerongkongan sehingga menimbulkan gejala yang mengganggu atau bahkan komplikasi. Penyebabnya adalah katup di ujung bawah kerongkongan yang melemah, sehingga asam lambung bisa "bocor" naik ke atas.
Maag vs GERD
Supaya lebih gampang dibedakan, dr. Rolan Sitompul, Sp.PD-KGEH, konsultan gastroenterologi-hepatologi, merangkum perbedaan keduanya seperti ini:
Gampangnya, kalau keluhanmu terasa di perut bagian atas, kemungkinan itu masalah di lambung. Tapi kalau rasa panasnya naik ke dada sampai tenggorokan, apalagi saat rebahan, bisa jadi itu GERD.
Apa Saja Pemicu GERD?
GERD bukan masalah langka. Meta-analisis Nirwan dkk. (2020) di jurnal Scientific Reports memperkirakan sekitar 14% orang di dunia mengalami GERD, atau lebih dari 1 miliar orang. Berikut faktor risiko dan pemicu yang perlu kamu waspadai:
Berat badan berlebih, karena tekanan di dalam perut meningkat dan mendorong asam naik.
Merokok, yang melemahkan katup kerongkongan dan menambah produksi asam lambung.
Minuman beralkohol, yang membuat katup kerongkongan jadi "kendor".
Kehamilan, karena hormon progesteron melemaskan katup kerongkongan.
Makanan tinggi lemak dan gorengan.
Minuman bersoda dan kopi.
Karena penyebabnya berbeda, cara mengatasinya pun berbeda. dr. Rolan Sitompul mengingatkan bahwa diagnosis yang tepat sangat penting sebelum memulai pengobatan jangka panjang.
Kalau GERD terus dianggap "maag biasa" dan nggak ditangani dengan benar, asam lambung yang berulang kali naik bisa melukai kerongkongan. Menurut Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kemenkes, GERD yang nggak tertangani bisa memicu radang kerongkongan (esofagitis), penyempitan kerongkongan, hingga kondisi bernama Barrett's esophagus yang berisiko berkembang menjadi kanker kerongkongan.
Cara Mengatasi dan Mencegahnya
Perubahan gaya hidup punya peran besar. dr. Muhammad Firhat Idrus, Sp.PD-KGEH, dari RSCM menyebut keluhan GERD maupun dispepsia bisa hilang kalau gaya hidupnya diperbaiki. Tapi keluhan bisa kambuh lagi kalau kebiasaan lamanya terulang. Ini langkah yang bisa kamu mulai:
Makan teratur. Jangan biarkan perut kosong terlalu lama gara-gara sibuk.
Beri jeda minimal 3 jam antara makan dan tidur, dan jangan langsung rebahan setelah makan.
Kurangi kopi, gorengan, dan makanan berlemak, juga minuman bersoda.
Hindari porsi makan besar di malam hari.
Tinggikan posisi kepala saat tidur kalau keluhan sering muncul di malam hari.
Berhenti merokok dan jauhi alkohol.
Jaga berat badan ideal.
Kelola stres dan istirahat yang cukup.
Kapan Harus ke Dokter?
Jangan terus-terusan mengobati sendiri. Segera periksa ke dokter kalau kamu mengalami tanda bahaya berikut:
Muntah darah atau BAB berwarna hitam.
Berat badan turun drastis tanpa sebab.
Sulit atau sakit saat menelan.
Muntah terus-menerus.
Keluhan baru muncul pertama kali di usia 45 tahun ke atas.
Ada riwayat kanker lambung atau kerongkongan di keluarga.
Dokter mungkin akan menyarankan pemeriksaan lanjutan seperti endoskopi untuk memastikan penyebabnya.
Saat perut terasa kembung atau mual setelah telat makan atau begadang, kamu bisa andalkan Proteged dari Lestari Herbal Nusantara. Proteged adalah madu herbal yang membantu meredakan gangguan lambung seperti perut kembung, mual, dan muntah, sekaligus memberi rasa hangat dan nyaman di pencernaan.
Setiap 15 ml Proteged diracik dari bahan-bahan alami:
Kunyit, yang mengandung kurkumin. Kunyit sedang banyak diteliti untuk keluhan lambung, termasuk dalam uji klinis pada pasien dispepsia di Thailand (Kongkam dkk., 2023).
Jahe, rempah yang sudah lama dipakai untuk meredakan mual.
Kayu manis dan minyak jinten hitam, untuk melengkapi ramuannya.
Madu, yang membuat rasanya enak dan mudah diminum.
Aturan minumnya: untuk dewasa, 2 kali sehari 1 sendok makan, dan kocok dulu sebelum diminum. Proteged tidak dianjurkan bagi yang alergi produk lebah. Proteged juga bekerja sebagai pendamping gaya hidup sehat. Kalau keluhan lambung terus berlanjut, sering muncul, atau disertai tanda bahaya di atas, segera konsultasikan ke dokter, ya.
Maag dan GERD memang sama-sama bikin nggak nyaman, tapi lokasi, gejala, dan penanganannya berbeda. Maag berkaitan dengan lambung dan biasanya terasa di ulu hati, sedangkan GERD berkaitan dengan naiknya asam ke kerongkongan dan terasa sebagai panas di dada.
Mulai sekarang, jangan asal bilang "maag kambuh". Kenali gejalamu, perbaiki pola makan dan gaya hidup, dan siapkan Proteged sebagai solusi saat perut terasa nggak nyaman!
Referensi
Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia. (2014). National Consensus on the Management of Gastroesophageal Reflux Disease in Indonesia. Acta Medica Indonesiana, 46(3). Acta Medica Indonesiana
Syam, A.F. dkk. (2017). National Consensus on Management of Dyspepsia and Helicobacter pylori Infection. Acta Medica Indonesiana, 49(3), 279. Acta Medica Indonesiana
Prof. Dr. dr. Dadang Makmun, Sp.PD-KGEH, FACG. Perut sering perih atau panas? Kenali perbedaan maag, GERD, dan dispepsia (20 Februari 2026). Yayasan Gastroenterologi Indonesia
dr. Rolan Sitompul, Sp.PD-KGEH. Maag vs GERD: dua kondisi yang sering tertukar (Juli 2026). Bethsaida Hospital
dr. Muhammad Firhat Idrus, Sp.PD-KGEH. Dokter ingatkan perbaiki gaya hidup untuk atasi sakit maag (12 Maret 2024). Antara Jabar
Nirwan, J. dkk. (2020). Global prevalence and risk factors of gastro-oesophageal reflux disease (GORD): systematic review with meta-analysis. Scientific Reports, 10, 5814. University of Huddersfield
Corsetti, M. & Fox, M. (2017). The management of functional dyspepsia in clinical practice. F1000Research, 6, 1778. F1000Research
Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kemenkes RI. GERD: meskipun biasa terjadi pada pencernaan manusia, jika tidak tertangani dengan benar apakah bisa berbahaya? (28 April 2023). Kemenkes
Faktor risiko dan tanda bahaya GERD (mengutip PGI 2022). Repository Universitas Bhakti Kencana
Kongkam, P. dkk. (2023). Curcumin and proton pump inhibitors for functional dyspepsia: a randomised, double blind controlled trial. BMJ Evidence-Based Medicine. HealthDay
Informasi pada halaman ini tidak menggantikan konsultasi dengan tenaga kesehatan.
